Skip to content

Bjorka, Kawan atau Lawan?

cover-bjorka-lawan-atau-kawan - 5

Bjorka, hacker yang membocorkan miliaran data pribadi

Indonesia saat ini dibuat gempar oleh kemunculan seorang hacker misterius bernama Bjorka. Fenomena ini diawali dengan meledaknya kasus kebocoran data sebanyak lebih dari 1 miliar data pribadi penduduk Indonesia. Sejak saat itu, tindakan Bjorka semakin menjadi-jadi dengan tersebarnya informasi pribadi anggota pemerintah Indonesia, Presiden RI, bahkan mengungkap dalang dibalik kasus pembunuhan seorang aktivis HAM, mendiang Munir. Tentu saja tindakan Bjorka menimbulkan pro dan kontra dari sebagian masyarakat Indonesia.

Adapun dari mata keamanan siber atau cyber security, bocornya data pribadi menandakan kurangnya kepedulian terhadap keamanan data yang dilakukan oleh penyedia layanan, ditambah dengan kuatnya pihak bad actor dalam mencari celah keamanan sistem, sehingga peristiwa ini bisa menjadi tamparan keras bagi seluruh penyedia atau penyelenggara layanan sistem elektronik di Indonesia untuk meningkatkan keamanan data penggunanya.

 

Apakah hacker itu jahat?

Tindakan Bjorka memicu perdebatan di antara masyarakat Indonesia karena aksinya yang dinilai sudah melampaui batas. Namun, beberapa diantaranya justru menganggap aksinya adalah heroik dan patut untuk didukung. Jadi, Bjorka ini sebenarnya kawan atau lawan bagi kita?

Kamu harus tahu bahwa hacker pada dasarnya bukanlah istilah untuk seorang yang melakukan kejahatan dengan meretas data pribadi untuk dijual atau disebarluaskan. Konsep hacker ada pada seseorang yang memiliki kemampuan meretas sistem baik komputer, aplikasi serta infrastruktur yang bertujuan untuk menguji tingkat keamanannya . Hacker sendiri terdiri dari beberapa jenis, seperti:

  1. White Hat Hacker yang memegang etika penuh dalam meretas sistem dan bertindak untuk menemukan celah keamanannya, biasanya mereka bekerja untuk organisasi legal.
  2. Black Hat Hacker yang memiliki niat jahat dibalik aktivitasnya dan meretas sistem dengan cara ilegal. Biasanya untuk mencuri data pribadi dan atau mengambil alih sistem untuk dieksploitasi.
  3. Gray Hat Hacker yang berada di antara white hat dan black hat hacker, karena mereka memiliki tujuan yang baik namun dengan cara ilegal.
  4. Hacktivist Hacker, biasanya mereka meretas website korban untuk menyampaikan pesan tertentu, seperti pesan politik kepada pemerintah.
  5. Red Hat Hacker adalah hacker yang cukup unik, karena bertujuan untuk menghentikan serangan para black hat hacker. Bahkan sangat mungkin red hat hacker bisa mengambil alih sistem milik black hat hacker!

 

Ini kebijakan BSSN terhadap keamanan data pribadi

Fenomena ini menimbulkan banyak spekulasi bahwa keamanan data pribadi Indonesia masih terbilang belum cukup kuat. Padahal, transformasi digital memang memberikan tantangan terbesar mengenai keamanan data pribadi tidak hanya pada penyedia layanan namun juga bagi pengguna itu sendiri. Menurut Pasal 14 Ayat 1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, bahwa penyelenggara sistem elektronik wajib melaksanakan prinsip perlindungan data pribadi dari kehilangan penyalahgunaan akses dan pengungkapan yang tidak sah.

Sementara itu, dijelaskan dalam Peraturan BSSN Nomor 8 Tahun 2020 tentang Sistem Pengamanan dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik, menyatakan bahwa penyelenggara sistem elektronik adalah setiap orang, entah itu penyelenggaraan negara, badan usaha, dan masyarakat yang menyediakan. mengelola, dan/atau mengoperasikan Sistem Elektronik.

 

Jadilah hacker yang beretika

Menjadi seorang hacker bukanlah hal yang buruk, asalkan kita memperhatikan etika dalam meretas sistem dan bukan untuk tujuan merusak atau mencuri data pribadi orang lain. Bahkan Indonesia sangat membutuhkan para talenta hacker yang beretika dalam membantu mengamankan kedaulatan siber Indonesia. Menjadi hacker beretika tidak hanya dibuktikan dengan bagaimana kita melakukan dan untuk apa, tapi harus disertai bukti bahwa kita kompeten dengan mengikuti sertifikasi CEH (Certified Ethical Hacker). Tapi, dimana kita bisa mendapatkannya?

Jawabannya adalah di Widya Security! Kamu bisa mendapatkan itu dengan mengikuti Cyber Security Certification. Tidak hanya CEH, kamu bisa mengikuti sertifikasi lainnya di bidang cyber security, seperti CHFI (Computer Hacking Forensics Investigator), CSCU (Certified Secure Computer User), dan masih banyak lagi. Sertifikasi ini dimiliki oleh lembaga internasional yaitu EC-Council. Tenang saja, Widya Security sudah dinyatakan sebagai ATC (Accredited Training Center) oleh EC-Council dan memiliki tim yang sudah berpengalaman di bidang cyber security selama lebih dari 10 tahun. Segera hubungi kami melalui e-mail [email protected] atau melalui nomor telepon (0274) 5025965. Keamanan datamu adalah tugas kita, so Feel SAFE With Us!

 

*diambil dari pelbagai sumber