Pentest E-Commerce Terpercaya & Bersertifikasi ISO

Platform e-commerce menyimpan salah satu kombinasi data paling sensitif sekaligus paling menggiurkan bagi penyerang. Diantaranya adalah data pribadi pelanggan, riwayat transaksi, metode pembayaran, hingga integrasi langsung dengan payment gateway. Satu celah keamanan yang tidak terdeteksi bisa berdampak langsung ke kepercayaan pelanggan — dan ke pendapatan.

Widya Security menyediakan pentest e-commerce komprehensif untuk melindungi platform Anda dari checkout hingga backend. Proses pentest juga dikerjakan tim bersertifikasi dengan Widya Security sendiri terverifikasi ISO 27001:2022.

(Diskusikan kebutuhan pentest platform e-commerce Anda di sini — respons dalam 1×24 jam.)


Kenapa Platform E-Commerce Jadi Target Favorit Penyerang

E-commerce punya kombinasi risiko yang tidak dimiliki jenis aplikasi lain:

1. Data pelanggan dalam jumlah besar Nama, alamat, nomor telepon, hingga riwayat pembelian — data ini bernilai tinggi di pasar gelap dan jadi target utama pencurian data (data breach).

2. Alur transaksi & pembayaran yang kompleks Integrasi dengan payment gateway, e-wallet, hingga fitur paylater menciptakan banyak titik masuk yang perlu diamankan sekaligus — mulai dari proses checkout, kalkulasi harga, hingga callback dari pihak ketiga.

3. Celah logika bisnis yang sering luput dari scanner otomatis Kasus umum di e-commerce: manipulasi harga saat checkout, abuse kode voucher/promo, race condition pada stok barang, atau bypass proses pembayaran — semua ini adalah celah logika bisnis yang hanya bisa ditemukan lewat pengujian manual, bukan vulnerability scanner biasa.

4. Admin panel dan sistem backend yang jarang diuji setegas frontend Tim sering fokus mengamankan aplikasi yang dilihat pelanggan, sementara admin panel dan sistem manajemen inventori/pesanan — yang justru punya akses lebih luas — kurang mendapat perhatian yang sama.


Cakupan Pentest E-Commerce di Widya Security

Kami menguji platform e-commerce Anda secara menyeluruh, mencakup:

  • Aplikasi Web & Mobile E-Commerce — celah pada aplikasi yang diakses pelanggan, mengacu pada OWASP Top 10 dan OWASP Mobile Top 10
  • Alur Checkout & Pembayaran — pengujian terhadap manipulasi harga, bypass validasi pembayaran, dan celah pada integrasi payment gateway
  • Sistem Autentikasi & Manajemen Akun — celah pada login, reset password, dan session management yang bisa mengakibatkan pengambilalihan akun pelanggan
  • Logika Bisnis Spesifik E-Commerce — abuse voucher/promo, race condition stok barang, manipulasi keranjang belanja
  • API E-Commerce — endpoint yang menghubungkan aplikasi mobile, web, dan integrasi pihak ketiga (kurir, payment gateway, marketplace)
  • Admin Panel & Backend — sistem manajemen pesanan, inventori, dan dashboard internal yang sering jadi celah tersembunyi
  • Keamanan Infrastruktur — server, database, dan konfigurasi cloud yang menopang platform

Syarat Pentest OJK — Kapan E-Commerce Perlu Memperhatikannya?

Tidak semua platform e-commerce diatur langsung oleh OJK. Namun, kewajiban ini menjadi relevan ketika platform Anda:

  • Memiliki fitur e-wallet atau dompet digital sendiri (bukan sekadar integrasi payment gateway pihak ketiga)
  • Menyediakan fitur paylater atau pembiayaan yang berada di bawah pengawasan OJK sebagai perusahaan pembiayaan
  • Terafiliasi dengan entitas keuangan dalam grup bisnis yang sama

Dalam kondisi ini, platform Anda perlu mengacu pada ketentuan seperti SEOJK 21/SEOJK.03/2017 dan POJK terkait manajemen risiko teknologi informasi, yang mensyaratkan pengujian keamanan berkala terhadap sistem yang memproses transaksi keuangan. Tim kami dapat membantu memastikan scope pentest platform e-commerce Anda selaras dengan persyaratan ini, sekaligus menyiapkan dokumentasi yang dibutuhkan untuk pelaporan ke OJK bila relevan.

Bahkan bila platform Anda tidak secara langsung diawasi OJK, mitra payment gateway atau bank yang bekerja sama dengan Anda kerap tetap mensyaratkan bukti pentest sebagai bagian dari proses onboarding — menjadikan pentest bukan cuma soal keamanan internal, tapi syarat menjaga kelangsungan kerja sama bisnis.


Pentest untuk Sertifikasi ISO 27001

Bagi platform e-commerce yang sedang menuju atau mempertahankan sertifikasi ISO 27001 — baik atas permintaan investor, mitra bisnis besar, maupun sebagai standar internal — pentest menjadi bagian dari bukti kepatuhan yang diminta auditor. Kontrol manajemen kerentanan teknis dalam Annex A ISO 27001 mensyaratkan pengujian keamanan yang terdokumentasi secara berkala, dan laporan hasil pentest menjadi salah satu evidence utama yang diperiksa saat proses audit sertifikasi maupun surveillance audit tahunan.


Kenapa Memilih Widya Security untuk Pentest E-Commerce?

Bersertifikasi ISO 27001:2022 — bukan cuma menguji standar ini untuk klien
Proses internal kami dalam menangani data dan temuan sensitif klien telah diaudit dan memenuhi standar internasional yang sama yang kami rekomendasikan ke klien.

Berpengalaman menguji celah logika bisnis, bukan cuma celah teknis
Kasus seperti abuse promo, manipulasi harga, atau race condition stok butuh pemahaman alur bisnis e-commerce yang sesungguhnya — bukan sekadar menjalankan tools otomatis ke setiap endpoint.

Manual testing sebagai inti pengujian
Vulnerability scanner otomatis hanya menemukan celah yang sudah dikenal database tools. Tim kami melakukan eksploitasi manual untuk menemukan celah yang benar-benar relevan dengan risiko bisnis platform Anda.

Laporan actionable untuk dua audiens
Setiap laporan memuat executive summary untuk manajemen (fokus risiko bisnis) dan technical findings lengkap untuk tim engineering (Proof of Concept, CVSS scoring, langkah remediasi).

Retest untuk validasi perbaikan
Kami membantu memastikan celah yang ditemukan benar-benar tertutup setelah tim Anda melakukan remediasi — penting terutama menjelang audit ISO 27001 atau musim belanja besar (flash sale, harbolnas).


Berapa Harga Pentest Aplikasi E-Commerce?

Harga pentest aplikasi mulai dari Rp20 juta, tergantung kompleksitas dan kebutuhan setiap perusahaan — dipengaruhi oleh jumlah fitur yang diuji (web, mobile, admin panel, API), kompleksitas alur pembayaran, serta apakah pengujian mencakup satu platform saja atau ekosistem yang lebih luas (marketplace multi-seller, integrasi logistik, dsb).

Untuk mendapatkan estimasi yang akurat, tim kami akan berdiskusi lebih dulu memahami arsitektur dan kebutuhan spesifik platform Anda pada sesi konsultasi awal — tanpa komitmen apa pun di tahap ini.


Proses Pengerjaan Pentest E-Commerce

  1. Konsultasi & Scoping — memahami arsitektur platform, fitur transaksi, dan integrasi pihak ketiga yang perlu diuji.
  2. Perencanaan Pengujian — menentukan metode pengujian dan jadwal yang tidak mengganggu operasional, termasuk menghindari periode kampanye/flash sale bila diperlukan.
  3. Pengujian Manual — simulasi serangan nyata mencakup celah teknis maupun logika bisnis.
  4. Pelaporan — laporan komprehensif dengan Proof of Concept, CVSS scoring, dan rekomendasi remediasi.
  5. Presentasi Hasil — penjelasan langsung ke tim teknis maupun manajemen.
  6. Retest — validasi bahwa perbaikan sudah efektif menutup celah yang ditemukan.

FAQ Seputar Pentest E-Commerce

Berapa harga pentest aplikasi e-commerce? Harga pentest aplikasi e-commerce di Widya Security mulai dari Rp20 juta, tergantung kompleksitas dan kebutuhan setiap perusahaan — termasuk jumlah fitur, kompleksitas integrasi pembayaran, dan cakupan platform (web, mobile, admin panel, API).

Apakah e-commerce wajib memenuhi syarat pentest OJK? Tergantung model bisnisnya. Platform e-commerce murni tanpa fitur keuangan sendiri umumnya tidak diatur langsung oleh OJK. Namun, jika platform memiliki e-wallet, fitur paylater, atau terafiliasi entitas keuangan, ketentuan seperti SEOJK 21/SEOJK.03/2017 terkait manajemen risiko teknologi informasi menjadi relevan dan mensyaratkan pengujian keamanan berkala.

Apakah pentest diperlukan untuk sertifikasi ISO 27001? Ya. Kontrol manajemen kerentanan teknis dalam Annex A ISO 27001 mensyaratkan bukti pengujian keamanan terdokumentasi secara berkala, dan laporan pentest menjadi salah satu evidence yang diperiksa auditor saat proses sertifikasi maupun surveillance audit.

Kapan waktu terbaik melakukan pentest e-commerce? Idealnya dilakukan sebelum peluncuran fitur besar (metode pembayaran baru, program loyalti), sebelum musim belanja besar seperti harbolnas, dan secara berkala setiap 6–12 bulan untuk memastikan celah baru akibat perubahan sistem tetap terpantau.

Bagaimana memilih vendor pentest e-commerce terbaik? Perhatikan tiga hal: (1) pengalaman menguji celah logika bisnis spesifik e-commerce seperti abuse promo dan manipulasi harga, bukan cuma celah teknis generik, (2) proporsi manual testing dibanding hasil scanner otomatis, dan (3) kejelasan proses retest setelah remediasi. Widya Security memenuhi ketiganya, dengan sertifikasi ISO 27001:2022 dan pengalaman menangani klien lintas sektor termasuk platform digital dan keuangan.


Siap Amankan Platform E-Commerce Anda?

Diskusikan kebutuhan pentest platform e-commerce Anda dengan tim Widya Security. Konsultasi awal gratis, tanpa komitmen — kami bantu tentukan scope pengujian paling relevan dengan risiko bisnis Anda. Hubungi kami di sini untuk konsultasi gratis.

Pentest API: Amankan Sistem Software House Anda

pentest api widya security - pentest indonesia

Widya Security menyediakan pentest API khusus untuk mendeteksi celah pada layer yang menghubungkan sistem-sistem Anda. Ini mengacu pada standar OWASP API Security Top 10, dikerjakan tim bersertifikasi dengan Widya Security sendiri terverifikasi ISO 27001:2022.

Pertanyaannya, ada apa dengan keamanan API? Mengapa API perlu menjadi fokus perusahaan mengenai keamanannya?

Hampir semua produk digital modern — aplikasi mobile, web app, integrasi pihak ketiga, hingga sistem microservices — berjalan di atas API. Masalahnya, API sering jadi titik paling rentan justru karena jarang diuji setegas aplikasi web pada umumnya. Ini menjadi satu celah otorisasi di satu endpoint saja bisa membuka akses ke seluruh data pengguna.

(Diskusikan kebutuhan pentest API perusahaan Anda di sini — respons dalam 1×24 jam.)


Apa Itu Pentest, dan Kenapa API Butuh Pengujian Tersendiri?

Apa itu pentest? Secara singkat, penetration testing adalah simulasi serangan siber yang dilakukan secara terkontrol untuk menemukan dan membuktikan celah keamanan sebelum pihak yang tidak bertanggung jawab menemukannya lebih dulu.

API punya karakteristik risiko yang berbeda dari aplikasi web pada umumnya:

  • Tidak selalu punya antarmuka visual: celah pada API sering tidak terlihat lewat pengujian aplikasi web biasa. Sebab, pengujian web umumnya berhenti di apa yang tampil di browser.
  • Terhubung ke banyak sistem sekaligus: satu API bisa dipanggil oleh aplikasi mobile, web, partner eksternal, dan sistem internal secara bersamaan. Jika dibiarkan, ini memperluas dampak jika terjadi celah.
  • Rawan celah otorisasi antar-user: kesalahan paling umum pada API bukan soal enkripsi atau infrastruktur. Melainkan adalah broken object level authorization (BOLA): pengguna A bisa mengakses data milik pengguna B hanya dengan mengubah ID di request.

Karena karakteristik ini, pentest API memerlukan pendekatan dan metode pengujian yang berbeda dari pentest aplikasi web konvensional — bukan sekadar menjalankan scanner yang sama ke endpoint API.


Pentest untuk Software House: Kenapa Kebutuhannya Berbeda

Software house dan perusahaan tech punya konteks yang unik dibanding perusahaan pada umumnya saat butuh pentest:

1. Siklus rilis yang cepat Software house biasanya merilis update mingguan atau bahkan harian. Pengujian keamanan perlu bisa menyesuaikan ritme ini — bukan proses yang memakan waktu berbulan-bulan dan menghambat roadmap produk.

2. Produk yang dijual ke klien enterprise Ketika software house menjual produk B2B ke klien enterprise atau institusi keuangan, klien tersebut hampir selalu meminta bukti pentest sebagai bagian dari proses vendor security assessment sebelum kontrak ditandatangani. Tanpa laporan pentest yang kredibel, deal bisa tertunda atau batal.

3. Kekayaan intelektual (source code) adalah aset utama Berbeda dari perusahaan yang aset utamanya fisik, software house paling rentan kehilangan keunggulan kompetitif justru lewat kebocoran source code atau logika bisnis lewat celah API yang tidak terdeteksi.

4. Arsitektur microservices memperbanyak attack surface Semakin banyak endpoint API yang dipecah jadi microservices, semakin besar pula permukaan yang perlu diuji — satu service yang lemah bisa jadi pintu masuk ke seluruh sistem yang saling terhubung.

Karena alasan-alasan ini, banyak software house akhirnya menjadikan pentest API sebagai bagian rutin dari siklus pengembangan produk, bukan cuma pengujian sekali di awal.


Kapan Harus Melakukan Pentest API?

Pertanyaan ini sering muncul di tahap evaluasi — berikut momen yang paling tepat:

  • Sebelum rilis fitur atau produk baru — terutama jika fitur tersebut menangani data sensitif (pembayaran, data pribadi, autentikasi).
  • Setelah perubahan arsitektur signifikan — migrasi ke microservices, penambahan integrasi pihak ketiga, atau perubahan sistem autentikasi.
  • Sebelum proses due diligence atau audit klien enterprise — termasuk saat mengejar kontrak B2B besar yang mensyaratkan bukti keamanan.
  • Secara berkala (idealnya setiap 6–12 bulan) — API terus berubah seiring pengembangan produk, sehingga pengujian sekali di awal tidak cukup untuk menjamin keamanan jangka panjang.
  • Setelah insiden keamanan — untuk memastikan celah yang dieksploitasi benar-benar sudah tertutup, dan tidak ada celah lain yang belum terdeteksi.
  • Menjelang sertifikasi ISO 27001 atau audit kepatuhan lainnya — sebagai bagian dari evidence pengujian keamanan yang terdokumentasi.

Cakupan Pentest API di Widya Security

Pengujian kami mengacu pada OWASP API Security Top 10, mencakup area risiko yang paling sering ditemukan pada API modern:

  • Broken Object Level Authorization (BOLA) — pengguna mengakses data milik pengguna lain lewat manipulasi ID
  • Broken Authentication — celah pada mekanisme login, token, dan session API
  • Broken Object Property Level Authorization — akses tidak sah ke field/data tertentu dalam response API
  • Unrestricted Resource Consumption — potensi abuse rate limit yang bisa menyebabkan downtime (denial of service)
  • Broken Function Level Authorization — pengguna biasa bisa mengakses fungsi yang seharusnya khusus admin
  • Server-Side Request Forgery (SSRF) melalui parameter API
  • Security Misconfiguration — konfigurasi CORS, header keamanan, dan error handling yang longgar
  • Improper Inventory Management — API versi lama atau endpoint yang terlupakan (shadow API) yang masih aktif dan tidak termonitor
  • Injection & Business Logic Flaws — celah pada validasi input serta logika bisnis spesifik aplikasi Anda

Metode Pengujian

Pentest API umumnya dilakukan dengan pendekatan grey box — tim kami akan meminta dokumentasi API (Swagger/OpenAPI, Postman collection) dan akses akun uji dengan level berbeda, untuk menguji secara efisien tanpa perlu reverse-engineering seluruh sistem dari nol. Pendekatan black box juga tersedia bila Anda ingin mensimulasikan sudut pandang penyerang eksternal tanpa informasi apa pun.


Widya Security Adalah Partner Terbaik untuk Anda

Bersertifikasi ISO 27001:2022 — bukan cuma menguji standar ini untuk klien → Proses internal kami dalam menangani data dan temuan sensitif klien telah diaudit dan memenuhi standar internasional yang sama yang kami rekomendasikan ke klien.

Manual testing sebagai inti pengujian → Celah paling berbahaya pada API — seperti BOLA dan business logic flaw — hampir tidak mungkin ditemukan scanner otomatis. Tim kami melakukan eksploitasi manual untuk menguji setiap endpoint dari sudut pandang penyerang sungguhan.

Terbiasa bekerja dengan ritme pengembangan software house → Kami memahami tim engineering butuh hasil yang jelas dan dapat langsung ditindaklanjuti, bukan laporan generik yang butuh interpretasi ulang sebelum bisa dikerjakan tim dev.

Laporan actionable untuk dua audiens → Setiap laporan memuat executive summary untuk manajemen/klien (fokus risiko bisnis) dan technical findings lengkap untuk tim engineering (endpoint spesifik, Proof of Concept, langkah remediasi).

Retest untuk validasi perbaikan → Kami membantu memastikan celah yang ditemukan benar-benar tertutup setelah tim Anda melakukan patch — penting terutama untuk software house yang perlu menunjukkan bukti remediasi ke klien enterprise mereka.


Proses Pengerjaan Pentest API

  1. Konsultasi & Scoping — memahami arsitektur API, jumlah endpoint, dan level akses yang perlu diuji.
  2. Pengumpulan Dokumentasi — API spec (Swagger/OpenAPI/Postman) dan akun uji dengan berbagai level akses.
  3. Pengujian Manual — eksploitasi terkontrol mengacu pada OWASP API Security Top 10.
  4. Pelaporan — laporan komprehensif dengan endpoint spesifik, Proof of Concept, CVSS scoring, dan rekomendasi remediasi.
  5. Presentasi Hasil — penjelasan langsung ke tim engineering maupun manajemen.
  6. Retest — validasi bahwa perbaikan sudah efektif menutup celah yang ditemukan.

Berapa Biaya Pentest API?

Biaya pentest API mulai dari Rp20 juta, tergantung kompleksitas dan kebutuhan setiap perusahaan — dipengaruhi oleh jumlah endpoint yang diuji, kompleksitas alur otorisasi, serta apakah pengujian mencakup satu layanan saja atau beberapa microservices sekaligus.

Untuk mendapatkan estimasi yang akurat, tim kami akan berdiskusi lebih dulu memahami arsitektur API dan kebutuhan spesifik Anda pada sesi konsultasi awal — tanpa komitmen apa pun di tahap ini.


FAQ Seputar Pentest API

Apa itu pentest API? Pentest API adalah simulasi serangan siber yang dilakukan secara terkontrol pada layer API — komponen yang menghubungkan aplikasi mobile, web, dan sistem lain dengan server. Tujuannya menemukan dan membuktikan celah seperti kesalahan otorisasi, autentikasi, atau logika bisnis sebelum dieksploitasi pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kapan harus melakukan pentest API? Idealnya sebelum rilis fitur baru yang menangani data sensitif, setelah perubahan arsitektur signifikan, secara berkala setiap 6–12 bulan, serta menjelang proses due diligence klien enterprise atau audit kepatuhan seperti ISO 27001.

Apa bedanya pentest API dengan pentest aplikasi web biasa? Pentest aplikasi web umumnya berfokus pada apa yang terlihat di antarmuka (browser), sementara pentest API menguji langsung komunikasi data di balik layar — termasuk celah yang tidak akan pernah terdeteksi lewat pengujian antarmuka saja, seperti broken object level authorization (BOLA) atau shadow API yang masih aktif tanpa disadari tim.

Apakah software house dengan siklus rilis cepat tetap bisa melakukan pentest rutin? Bisa. Scope pengujian dapat disesuaikan agar selaras dengan roadmap rilis — misalnya berfokus pada endpoint atau fitur baru saja untuk pengujian yang lebih sering, dikombinasikan dengan pengujian menyeluruh secara berkala.

Bagaimana memilih vendor pentest API terbaik? Perhatikan tiga hal: (1) pengalaman spesifik menguji API dan arsitektur microservices, bukan cuma aplikasi web, (2) proporsi manual testing dibanding hasil scanner otomatis, dan (3) kejelasan proses retest setelah remediasi. Widya Security memenuhi ketiganya, dengan sertifikasi ISO 27001:2022 dan pengalaman menangani klien dari sektor teknologi maupun enterprise.


Persiapkan Keamanan API Anda Menjadi Lebih Kuat!

Diskusikan kebutuhan pentest API perusahaan Anda dengan tim Widya Security. Konsultasi awal gratis, tanpa komitmen — kami bantu tentukan scope pengujian paling relevan dengan arsitektur sistem Anda. Hubungi kami lebih lanjut di sini.