Implementasi Zero Trust Security Untuk Perusahaan 

Saat ini, banyak perusahaan beralih dari keamanan firewall ke pendekatan keamanan baru yang lebih modern, seperti Zero Trust Security untuk memperkuat sistem keamanannya. Serangan siber yang semakin kompleks dan sulit untuk diprediksi mendorong adanya kebutuhan keamanan digital yang lebih terpercaya. Selain itu, ancaman serangan siber tidak hanya berasal dari luar. Pada kenyataannya kebanyakan serangan siber berasal dari internal perusahaan itu sendiri. Hal ini dapat terjadi karena karyawan perusahaan minim akan pengetahuan keamanan data. Lantas bagaimana pengimplementasian Zero Trust bagi perusahaan yang mengadopsi cloud, remote work, dan BYOD? Mari kita bahas bersama…

Apa Itu Zero Trust Security?

Zero Trust Security merupakan model keamanan siber yang menghilangkan kepercayaan sistem sehingga membutuhkan verifikasi identitas secara ketat untuk setiap perangkat. Sistem akan secara otomatis mewajibkan verifikasi sebelum mengakses informasi apapun. Terlepas dari apakah perangkat tersebut berasal dari dalam jaringan perusahaan maupun eksternal perusahaan. 

Zero Trust dirancang untuk melindungi data dengan mencegah pergerakan yang mencurigakan dan menyediakan lapisan keamanan dengan memanfaatkan autentifikasi serta jaringan yang kuat. Sehingga apabila model keamanan ini diterapkan akan memberikan peringatan kepada pengguna untuk tidak mempercayai permintaan apapun dan memberikan hak akses seminimal mungkin sesuai dengan kebutuhan pengguna. Kemudian akses akan diputuskan berdasarkan lokasi, perangkat, waktu, dan pergerakannya. 

Cara Mengimplementasikan Zero Trust Security

Pendekatan terstruktur dan terarah dibutuhkan ketika suatu perusahaan ingin menerapkan Zero Trust Security. Berikut langkah-langkah strategis yang dapat diambil:

  1. Tentukan aset atau sistem serta data yang ingin dilindungi dan yang paling krusial dalam bisnis. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi nilai resiko setiap sistem dan membuat skala prioritas.
  2. Memilih strategi dan teknologi pendukung sesuai kebutuhan dari sistem yang paling rentan dan penting bagi perusahaan.
  3. Melakukan pembatasan akses pengguna hanya sesuai tugas dan membagi jaringan ke dalam beberapa segmen agar tidak terjadi pelanggaran.
  4. Melakukan pemantauan aktivitas sistem dan pengguna agar dapat mendeteksi potensi ancaman. 
  5. Memberikan pelatihan keamanan siber kepada seluruh karyawan agar dapat memahami ancaman dan perannya dalam menjaga sistem supaya tetap aman. Hal ini dibutuhkan karena teknologi tidak akan bisa melindungi data tanpa dukungan manusia.

Dengan pendekatan yang tepat, Zero Trust Security dapat meningkatkan ketahanan siber organisasi, melindungi aset digital dari serangan internal maupun eksternal, serta menjaga kepercayaan pelanggan dan mitra bisnis. 

Ingin memulai menjaga keamanan data di perusahaan Anda? Konsultasikan dengan Widya Security hari ini!

Memahami Perbedaan Malware & Virus, Jangan Sampai Terbalik! 

sumber: freepik

Malware dan virus merupakan istilah yang sering digunakan secara bergantian. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang penting untuk dipahami. Lantas apakah sebenarnya malware? apa bedanya dengan virus? Simak penjelasan selengkapnya.. 

Pengertian Malware dan Cara Kerja 

Malware atau Malicious Software merupakan perangkat lunak berbahaya yang diciptakan untuk tujuan yang merugikan korban. Beberapa dampaknya yaitu data dalam komputer yang sudah terkena malware dapat tercuri, rusak, error ketika dibuka, bahkan hilang dan tidak bisa diakses kembali. Selain itu, bandwidth atau sumber daya komputer dapat digunakan tanpa seizin pemilik komputer oleh pelaku. Malware adalah istilah payung yang mencakup berbagai jenis ancaman digital, seperti: Virus, Worm, Trojan, Spyware, Ransomware, dan Rootkit.

Cara kerja dari malware yaitu malware akan masuk melalui file yang sudah terinfeksi, unduhan mencurigakan, email phishing, atau situs berbahaya. Kemudian, malware dapat berjalan secara diam-diam atau aktif merusak sistem, mencuri data, hingga memata-matai aktivitas pengguna. Beberapa jenis malware juga dapat menyebar ke perangkat lain dalam jaringan.

Pengertian Virus dan Cara Kerja 

Virus adalah salah satu jenis malware yang menempel pada file atau program dan menyebar saat file tersebut dibuka atau dijalankan. Virus membutuhkan intervensi pihak ketiga yaitu manusia untuk bisa berjalan. Cara kerja virus yaitu ia akan memalsukan diri sebagai program, seperti .doc, .jpg atau folder yang jika di klik akan menjalankan virus. Virus memiliki tujuan untuk menginfeksi komputer sehingga dapat menyebabkan file rusak, hilang, atau sistem menjadi lambat.

Perbedaan Antara Malware dan Virus 

AspekMalwareVirus
DefinisiSemua jenis perangkat lunak yang berbahayaSalah satu jenis malware
Cara PenyebaranOtomatis (jenis worm), melalui email, aplikasi, dsbMenyebar ketika file yang terinfeksi dijalankan
Interaksi PenggunaTidak selalu butuh interaksi penggunaMembutuhkan tindakan pengguna untuk menjalankan file
Tujuan UtamaMencuri data, merusak sistem, dsbMerusak file atau menyebar lebih luas
ContohRansomware, Spyware, Trojan, Adware, VirusFile infector virus, macro virus, boot sector virus

Memahami perbedaan antara malware dan virus sangat penting untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi ancaman cyber yang terus berkembang. Virus merupakan salah satu jenis malware yang sama bahayanya dengan malware itu sendiri. Namun keduanya memiliki karakteristik dan cara penyebaran yang berbeda. 

Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan seperti menggunakan perangkat lunak keamanan, melakukan pembaruan sistem, serta menerapkan kebiasaan digital yang baik agar risiko serangan dapat diminimalkan. Apabila ingin meningkatkan ketahanan digital secara menyeluruh, Anda dapat melakukan kerjasama dengan penyedia layanan keamanan cyber yang berpengalaman untuk membangun sistem pertahanan yang kuat dan berkelanjutan. 

Hubungi Widya Security hari ini untuk menjaga sistem Anda tetap aman dari segala ancaman siber, termasuk malware dan virus! 

Serangan DDoS di Dunia Cyber dan Cara Pencegahannya

Penggunaan teknologi layanan online saat ini sangat penting bagi kelangsungan bisnis maupun aktivitas pribadi. Namun, hal tersebut juga memunculkan adanya ancaman serangan DDoS (Distributed Denial of Service) yang menargetkan situs web dan server dengan mengganggu layanan jaringan. Bahkan keseluruhan layanan yang berada di situs tersebut dapat terhenti. Lantas bagaimana pencegahannya? dan bagaimana penanganannya? Mari kita bahas bersama.. 

Apa Itu Serangan DDoS?

DDoS (Distributed Denial of Service) merupakan serangan cyber yang dilakukan dengan cara membanjiri situs, web, maupun server menggunakan lalu lintas data palsu secara bersamaan. Serangan ini dikirimkan oleh bot master (pelaku cyber) melalui ribuan perangkat yang sudah terinfeksi malware yang dikelola melalui jaringan botnet. Hal ini berdampak langsung pada sumber daya server seperti bandwidth, memori dan CPU. Sehingga sistem layanan yang tidak dapat merespon permintaan bahkan tidak dapat diakses oleh pengguna yang sah. 

Jenis-Jenis Serangan 

  1. Volumetric Attacks, pada awalnya akan membanjiri lalu lintas jaringan yang tampak seperti jaringan yang sah. Kemudian lalu lintas jaringan akan meningkat secara ekstrem untuk menghabiskan bandwidth korban. 
  2. Protocol Attacks, menargetkan kelemahan protokol jaringan untuk membanjiri sistem dan menyebabkan kelebihan beban. 
  3. Application Layer Attacks, dapat mengganggu transmisi data antar host dengan menargetkan lapisan aplikasi seperti HTTP melalui permintaan palsu yang tampak normal tetapi dilakukan secara masif.  

Cara Pencegahan Serangan DDoS

Pencegahan serangan DDoS dilakukan dengan memperkuat infrastruktur sistem, seperti:

  1. Menggunakan firewall, Web Application Firewall (WAF), dan layanan anti-DDoS untuk memfilter trafik yang mencurigakan.
  2. Lakukan pengujian keamanan (penetration testing) secara berkala untuk mengidentifikasi kelemahan sistem.

Cara Penanganan Serangan DDoS

Penanganan serangan DDoS perlu dilakukan dengan tindakan yang cepat dan tepat agar layanan tetap dapat dipertahankan dan kerugian finansial perusahaan/pemilik server dapat diminimalkan. Beberapa langkah penanganan apabila server maupun sistem terkena serangan DDoS diantaranya:

  1. Mengidentifikasi sumber serangan seperti melacak alamat IP, negara asal, atau pola trafik yang tidak wajar.
  2. Melakukan pemblokiran IP mencurigakan untuk mencegah akses sistem lebih lanjut.
  3. Melakukan pengalihan trafik agar serangan tidak langsung membebani server utama.
  4. Koordinasikan serangan dengan penyedia layanan keamanan siber guna mendapatkan bantuan teknis dan perlindungan lanjutan.

Penting bagi setiap individu maupun organisasi memahami potensi risiko dan menerapkan langkah-langkah pencegahan secara proaktif untuk meminimalkan bahkan mencegah serangan DDoS. Kewaspadaan dan kesiapan adalah kunci utama untuk menjaga stabilitas dan ketersediaan layanan yang Anda miliki. Bangun sistem pertahanan digital yang kuat melalui Widya Security! Widya Security menyediakan solusi perlindungan cyber menyeluruh serta layanan keamanan jaringan yang dapat Anda percaya! 

Mengenal Botnet : Ancaman Tersembunyi di Balik Dunia Maya

Botnet merupakan istilah lain untuk Robot Network dimana sekumpulan perangkat yang sudah terinfeksi oleh malware saling terhubung melalui internet. Peretas yang mengendalikan perangkat-perangkat tersebut dikenal dengan sebutan bot master atau bot herder. Sedangkan kumpulan perangkat seluler, komputer, server, maupun perangkat IoT yang sudah terinfeksi botnet disebut dengan bot atau zombie.

Botnet merupakan salah satu ancaman serangan keamanan cyber yang paling berbahaya. Jenis kejahatan cyber ini bekerja secara diam-diam tanpa sepengetahuan pemilik perangkat. Serangan ini dapat memungkinkan peretas merusak server, mencuri data, hingga mengirimkan malware berbahaya. 

Jenis Serangan dari Botnet & Dampaknya

  1. Serangan DDoS (Distributed Denial of Service) dengan tujuan untuk melumpuhkan layanan sehingga situs web tidak dapat diakses oleh pengguna sah. Perangkat zombie akan membanjiri server target dengan lalu lintas data palsu secara bersamaan.
  2. Serangan Brute Force untuk membobol sistem dengan mencoba kombinasi username dan password secara otomatis dan terus menerus melalui berbagai perangkat zombie secara bersamaan.
  3. Serangan Phising dan Spam Massal untuk mengirim email berbahaya yang berisi tautan berbahaya melalui botnet.
  4. Pencurian Data Pribadi melalui botnet yang sudah menginfeksi perangkat.

Ciri-ciri Perangkat Yang Terkena Botnet 

  • Penurunan kinerja perangkat secara drastis seperti perangkat menjadi sangat lambat tanpa alasan jelas meskipun tidak ada aplikasi yang sedang dijalankan.
  • Trafik internet atau penggunaan data internet meningkat drastis meskipun tidak digunakan untuk mengunduh file besar atau streaming.
  • Penurunan daya baterai secara signifikan pada perangkat mobile (baterai cepat terkuras).
  • Program keamanan atau antivirus nonaktif dan tidak dapat diaktifkan kembali.

Cara Pencegahan dari Botnet

  • Perbarui sistem dan aplikasi (update Operating System) untuk meningkatkan sistem keamanan.
  • Gunakan antivirus terpercaya untuk melakukan pemindaian pada perangkat agar dapat membantu mengatasi malware yang menyerang perangkat. 
  • Waspada terhadap tautan/lampiran email dengan tidak membuka atau mengunduh lampiran email yang diterima.
  • Gunakan password yang kuat dan unik untuk menghindari serangan brute force dan ganti password secara berkala.

Botnet sangat sulit dikendalikan tanpa sistem keamanan yang tepat. Hal ini dikarenakan botnet mampu berkembang secara cepat dan menyerang target besar dalam waktu yang singkat. Widya Security hadir sebagai solusi perlindungan cyber modern dengan tim ahli yang siap membantu Anda mencegah dan menghadapi ancaman cyber pada sistem. Lindungi sistem Anda sejak dini melalui Widya Security!

Apa Itu Reconnaissance Dalam Tahapan Penetration Testing ?

Salah satu tahapan paling krusial dalam penetration testing adalah tahap awal yang dikenal dengan istilah reconnaissance (recon) atau pengintaian. Meski sering dianggap sepele, tahap ini menjadi dasar bagi keberhasilan pengujian penetrasi secara keseluruhan.

Definisi Reconnaissance

Reconnaissance adalah proses pengumpulan informasi maupun data mengenai sistem dan jaringan yang dijadikan target sistem atau jaringan sebelum dilakukan pengujian lebih lanjut. Dalam tahapan ini pentester melakukan pengumpulan banyak informasi untuk memahami struktur dan potensi kelemahan dari sistem yang akan diuji. Kemudian setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan pentester akan melakukan langkah pengujian yang selanjutnya.

Tujuan dari Reconnaissance yaitu untuk menemukan celah keamanan, kelemahan, maupun informasi sensitif yang dapat memberikan gambaran realistis tentang bagaimana sistem bisa dieksploitasi oleh pihak tidak bertanggung jawab.. Informasi yang dikumpulkan dapat berupa alamat IP, struktur jaringan, perangkat keras, perangkat lunak, dan informasi kontak yang terlibat. 

Kategori Utama Jenis-Jenis Reconnaissance 

  1. Passive Reconnaissance, jenis ini dilakukan tanpa interaksi langsung dengan sistem target sehingga sulit untuk terdeteksi. Pentester akan mengumpulkan informasi dari sumber publik dan terbuka seperti, Whois lookup, Pencarian Google (Google Dorking), Media sosial dan situs resmi perusahaan, Metadata dari dokumen publik, dan DNS records. 
  1. Active Reconnaissance, jenis ini melibatkan interaksi secara langsung terhadap sistem dan jaringan. Teknik ini dapat dengan mudah terdeteksi oleh sistem keamanan (IDS/IPS). Pentester biasanya menjalankan pemindaian port (mengidentifikasi port yang terbuka dan layanan yang berjalan di port tersebut), fingerprinting sistem operasi, atau ping sweep (digunakan untuk menentukan alamat IP), Network Mapping (menentukan jalur yang dilalui data dari sumber ke target). 

Bahaya dan Resiko Reconnaissance (Jika Dilakukan oleh Pihak Jahat)

Tahap reconnaissance bukan hanya penting dalam penetration testing, tetapi juga merupakan fase awal yang dapat digunakan oleh penyerang dalam dunia nyata. Berikut risiko yang bisa muncul jika tahap ini jatuh ke pihak yang tidak bertanggung jawab:

  1. Pengumpulan informasi sensitif oleh penyerang seperti struktur jaringan, jenis sistem, email internal, hingga data pribadi karyawan. 
  2. Peningkatan risiko serangan terarah seperti phishing, exploit, atau ransomware yang menyasar titik lemah sistem secara langsung.
  3. Identifikasi dan eksploitasi kerentanan yang dapat mengungkap versi perangkat lunak, konfigurasi jaringan, dan celah keamanan yang belum diketahui, yang kemudian bisa dimanfaatkan dalam serangan teknis lanjutan.
  4. Kesulitan deteksi oleh sistem keamanan jika penyerang menggunakan metode passive reconnaissance yang tidak menghasilkan aktivitas mencurigakan pada jaringan. Sehingga sering kali lolos dari sistem deteksi dan membuat organisasi tidak menyadari ancaman yang sedang terjadi.
  5. Potensi kerusakan reputasi dan penyalahgunaan data apabila informasi hasil reconnaissance disalahgunakan atau bocor. Selain itu kepercayaan pengguna dan mitra bisnis dapat menurun drastis akibat terbukanya kelemahan internal.

Reconnaissance merupakan tahap awal dan tahap paling dasar dalam penetration testing. Namun, juga menjadi langkah yang paling beresiko apabila dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, penting untuk memahami jenis dan dampak reconnaissance serta penerapan langkah-langkah pertahanan agar dapat memperkuat sistem keamanan. 

Widya Security siap membantu Anda dalam merancang dan menjalankan pengujian keamanan profesional agar sistem jaringan Anda lebih tahan terhadap serangan cyber.

Pengoptimalan Bandwidth pada Jaringan Internet

Istilah bandwidth digunakan untuk  mengukur kecepatan transfer data baik mengirim maupun menerima data melalui jaringan. Pernahkah Anda merasa internet tiba-tiba melambat padahal koneksi terlihat normal? Salah satu penyebab utamanya bisa jadi adalah penggunaan yang tidak efisien. Dalam artikel ini, Widya Security akan membahas secara lengkap tentang bandwidth dan cara pengelolaannya agar jaringan bisnis Anda tetap cepat, aman, dan efisien.

Apa itu Bandwidth ?

Bandwidth merupakan kecepatan maksimal transfer data pada jaringan dalam kurun waktu satu detik. Kecepatan tersebut menandakan jumlah data yang dapat mengalir per detik melalui saluran. Kecepatan yang dimaksud adalah jarak yang ditempuh dari satuan waktu yang diukur dalam satuan bps(bits per second). 

Semakin besar bandwidth, semakin banyak data yang dapat dikirim atau diterima dalam satu waktu. Sebagai contoh, apabila terdapat server yang terhubung melalui kabel telepon dengan modem ke internet service provider (ISP). Biasanya kecepatan jaringan diukur dengan Kbps, Mbps, atau Gbps. Dengan hasil bandwidth 80 Kbps, 80 Kbps ini melambangkan kecepatan transfer data . Secara sederhana dapat diibaratkan seperti jalan raya dimana semakin sedikit kendaraan atau data yang ditransfer maka semakin lancar transfer data dan sebaliknya. 

Bandwidth sangat mempengaruhi kinerja jaringan terutama dalam melakukan pengunggahan dan pengunduhan file berukuran besar. Namun, terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi seperti packet loss, latency, jitter, dan gangguan teknis lainnya yang dapat menghambat transmisi data.

Apa Fungsinya?

  1. Sebagai media untuk melakukan pengiriman data dalam jaringan tertentu. Ukuran bandwidth sendiri sering digunakan pengguna untuk memilih penyedia provider atau layanan internet. Hal ini berkaitan dengan koneksi internet yang ditawarkan sehingga semakin besar kecepatan jaringan maka pelayanan yang diberikan akan semakin terlihat baik. 
  2. Pembagian kecepatan transfer data untuk semua pengguna. Hal ini bertujuan agar jaringan tidak hanya  digunakan oleh pengguna yang membutuhkan permintaan data lebih besar dibanding pengguna lainnya.
  3. Bandwidth juga digunakan untuk mengatur besar data yang ditransfer dengan tujuan untuk mengurangi trafik yang tinggi dalam waktu yang lama. Sehingga stabilitas jaringan dapat terjaga. 

Bagaimana cara pengoptimalannya?

  1. Gunakan Quality of Service (QoS) agar Anda dapat mengatur sendiri prioritas trafik jaringan ke aplikasi atau layanan tertentu dan juga membatasi jaringan yang digunakan.
  2. Manfaatkan Layanan Cloud agar mengurangi beban pada jaringan lokal dan meningkatkan performa aplikasi yang sering digunakan. 
  3. Membatasi akses internet ke situs-situs berat dan tidak relevan, seperti platform streaming atau media sosial yang dapat menguras bandwidth secara signifikan. Dan menerapkan kebijakan pemblokiran situs melalui firewall dan sistem proteksi. 
  4. Melakukan pemantauan rutin dan audit berkala terhadap penggunaan bandwidth untuk mengetahui aplikasi atau perangkat mana yang mengonsumsi banyak trafik. 

Kesimpulan nya yaitu bandwidth adalah istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan kapasitas kabel ethernet atau besaran jaringan. Dihitung dalam satuan bps dan merupakan jumlah konsumsi ketika melakukan transfer data. 

Virtual Private Network: Perisai Digital untuk Keamanan Online

Pada tahun 1996 seorang karyawan Microsoft mencetuskan VPN (Virtual Private Network) dengan tujuan untuk menghubungkan dua komputer dengan metode peer-to-peer tunnelling protocol (PPTP). Saat ini VPN sendiri sering digunakan oleh berbagai pihak dengan tujuan untuk mendapatkan koneksi internet yang aman (secure), pribadi (private), dan untuk mengakses situs yang diblokir di wilayah tertentu. Bagaimana cara kerja VPN? dan bagaimana tujuan tersebut dapat tercapai? 

Apa itu Virtual Private Network?

VPN (Virtual Private Network) merupakan layanan yang dapat mengamankan dan menjaga privasi pengguna ketika melakukan transmisi data melalui akses internet. VPN dapat menyembunyikan alamat IP asli dan mengenkripsi koneksi sehingga data pengguna dapat terlindungi dari ancaman di jaringan publik yang bisa terjadi. 

Cara Kerja VPN

  • VPN akan mengenkripsi data pengguna kemudian mengirimkan data tersebut melalui server VPN
  • Identitas pengguna menjadi tersembunyi dan lokasi asli pengguna diganti dengan lokasi server VPN 
  • Pengguna memperoleh alamat IP virtual dari server VPN 
  • Dengan begitu lalu lintas data akan menjadi lebih aman dari pemantauan pihak ketiga. 

Manfaat Virtual Private Network

VPN memungkinkan pengguna untuk: 

  1. Terhubung ke internet melalui jaringan yang aman dan terenkripsi sehingga sulit bagi pihak ketiga untuk mengakses data pengguna.
  2. Pengguna dapat membuka dan mengakses situs web yang terblokir atau yang memiliki akses terbatas di wilayah mereka.
  3. Memberi akses terbatas pada jaringan publik dan memberi akses pada lingkup perusahaan. 
  4. VPN memungkinkan adanya fleksibilitas yang mana dapat digunakan di berbagai perangkat dan terhubung ke jaringan internet di seluruh dunia.

Kelemahan VPN

Beberapa kelemahan penggunaan VPN diantaranya:

  1. Kecepatan internet menurun dikarenakan adanya proses enkripsi yang dilakukan selama pengguna melakukan akses data online. Namun, hal ini dipengaruhi juga oleh kualitas layanan dan lokasi server yang digunakan.
  2. Penyedia VPN gratis memiliki potensi besar dalam melakukan penyimpanan maupun penjualan data pengguna. Oleh sebab itu, penting untuk memilih penyedia VPN yang sudah terpercaya.
  3. VPN tidak dapat menggantikan antivirus dikarenakan VPN tidak didesain untuk mendeteksi atau menghapus malware. Sehingga untuk perlindungan data yang menyeluruh tetap dibutuhkan adanya solusi keamanan tambahan seperti antivirus dan firewall.

Kesimpulan 

VPN atau virtual private network menjadi alat penting untuk menjaga privasi dan keamanan cyber. Namun, VPN bukan merupakan solusi tunggal dalam keamanan cyber sehingga perlu dikombinasikan dengan antivirus, firewall, dan protokol keamanan lainnya. Jadi untuk menjaga data Anda agar tetap aman dari ancaman cyber yang semakin kompleks Anda dapat menggabungkan layanan VPN yang terpercaya dengan strategi keamanan lain. Konsultasikan sekarang juga bersama Widya Security!

Mengenal Arti Enkripsi (Encryption) dan Dekripsi (Decryption)

Salah satu teknologi yang banyak digunakan untuk menjaga keamanan data dan melindungi informasi yaitu enkripsi dan dekripsi. Perkembangan teknologi mendorong adanya penggunaan data yang terhubung satu dengan yang lainnya. Lantas bagaimana proses enkripsi dan dekripsi bekerja? apa hubungan antara keamanan data dan enkripsi dekripsi ?

Pengertian Enkripsi dan Dekripsi

Enkripsi merupakan proses yang mengubah data atau informasi asli (plaintext) menjadi sesuatu yang tidak bisa dibaca oleh manusia (ciphertext). Tujuan dari enkripsi sendiri yaitu untuk menjaga kerahasiaan data agar makna asli data tersebut tidak dapat diketahui atau digunakan oleh pihak yang tidak berwenang. Enkripsi data sering digunakan ketika data yang dikirim merupakan informasi yang rahasia, dan dikirim melalui jaringan yang terbuka seperti internet. Contohnya: ketika anda mengirim pesan ‘data rahasia’ kemudian di enkripsi maka pesan tersebut akan menjadi kode acak seperti ‘X4g#v1*4K&a’. Pesan tersebut tidak dapat dibaca kecuali dengan kata kunci dari enkripsi. 

Sedangkan dekripsi merupakan kebalikan dari enkripsi, yaitu proses yang mengubah informasi ciphertext kembali menjadi plaintext. Proses ini dilakukan oleh penerima data yang memiliki otorisasi dan mengetahui kunci dekripsi. Jadi sederhananya, enkripsi mengacak data agar tidak bisa dibaca, sedangkan dekripsi mengembalikan data ke bentuk yang dapat dipahami. 

Jenis-jenis Enkripsi Apa Saja ?

  1. Enkripsi Simetris (Symmetric Encryption atau secret key encryption) : hanya menggunakan satu kunci identik yang nantinya digunakan oleh pengirim dan penerima informasi. Jadi pengirim harus memberikan kunci tersebut kepada siapa saja yang akan mendekripsi pesan atau informasi yang dikirim. Contoh algoritmanya yaitu AES (Advanced Encryption Standard).
  2. Enkripsi Asimetris (Asymmetric Encryption atau public key encryption) : menggunakan dua kunci yang berbeda namun keduanya saling terhubung. Kunci pertama yaitu public key yang berperan dalam melakukan enkripsi. Kemudian kunci yang kedua yaitu private key yang berperan untuk melakukan dekripsi. Kedua kunci tersebut dibuat secara berpasangan dan pengirim serta penerima informasi memiliki private key nya. Contoh algoritma nya yaitu RSA (Rivest-Shamir-Adleman).

Penggunaan Enkripsi dan Dekripsi

Secara umum, penggunaan enkripsi dan dekripsi memberikan banyak keuntungan. Beberapa keuntungan yang dapat dirasakan yaitu seperti keamanan data, menjaga kerahasiaan data, dan melindungi informasi sensitif dari kebocoran atau peretasan. Selain itu juga digunakan untuk memenuhi standar GDPR, ISO 27001, dan HIPAA. 

Namun dalam prakteknya enkripsi dapat disalah gunakan apabila tujuan dari proses enkripsi berbeda. Seperti ketika penjahat cyber yang melakukan enkripsi file penting secara ilegal dan menggunakannya sebagai alat pemerasan bukan perlindungan. 

Kesimpulan

Enkripsi dan dekripsi adalah komponen penting dalam menjaga keamanan data dan informasi. Namun, teknologi ini bisa disalahgunakan apabila penggunaannya tidak diawasi. Selain itu penggunaan enkripsi juga beresiko apabila penerima kehilangan kunci (decryptor). Maka dari itu, untuk mencegah hal tersebut terjadi Anda dapat menggunakan penyedia layanan keamanan cyber seperti Widya Security yang dapat membantu mengoptimalkan sistem keamanan data Anda. Segera konsultasikan kebutuhan keamanan siber Anda bersama Widya Security!