Skip to content
Home / Artikel / Threat Hunting: Strategi Deteksi Ancaman Siber Proaktif

Threat Hunting: Strategi Deteksi Ancaman Siber Proaktif

thumbnail-26

Threat Hunting: Strategi Deteksi Ancaman Siber Proaktif

Widya Security adalah perusahaan cyber security asal Indonesia yang berfokus pada Penetration Testing. Namun, dalam lanskap ancaman siber yang terus berkembang, pendekatan reaktif seperti sekadar menunggu alert dari sistem deteksi otomatis sudah tidak lagi memadai. Di sinilah threat hunting mengambil peran penting sebagai strategi deteksi proaktif. Threat hunting secara aktif mencari indikasi kompromi yang tersembunyi di dalam infrastruktur, memburu ancaman yang mungkin sudah berbulan-bulan berada di dalam sistem tanpa terdeteksi. Jika penetration testing menguji seberapa kuat pagar Anda, threat hunting memastikan tidak ada penyusup yang sudah terlanjur masuk dan bersembunyi di dalam rumah.

Konsep ini semakin relevan di Indonesia, di mana data dari U.S. Trade.gov mencatat bahwa Indonesia mengalami lebih dari 11 juta serangan siber hanya pada kuartal pertama 2022, meningkat 22 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa pendekatan pasif tidak akan pernah cukup, organisasi perlu berburu, bukan hanya bertahan.

Mengapa Threat Hunting Menjadi Lapisan Pertahanan yang Krusial?

Sebagian besar organisasi masih mengandalkan tools seperti firewall, antivirus, dan SIEM untuk mendeteksi ancaman. Masalahnya, tools ini bekerja berdasarkan aturan dan signature yang sudah dikenal. Serangan yang lebih canggih, seperti fileless malware, living-off-the-land attack, atau serangan dari insider, sering kali lolos begitu saja karena tidak memicu alert konvensional. Di sinilah nilai threat hunting terletak, pada kemampuaya menemukan ancaman yang tidak terdeteksi oleh sistem otomatis.

ITSEC Indonesia menjelaskan bahwa threat hunting merupakan proses yang dimulai dari hipotesis berbasis threat intelligence. Hipotesis ini kemudian diuji melalui analisis log endpoint, data jaringan, catatan autentikasi, dan cloud telemetry untuk menemukan perilaku mencurigakan. Proses ini menuntut pemahaman mendalam tentang pola serangan dan teknik yang digunakan oleh aktor ancaman, sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya diotomatisasi.

Dalam lowongan pekerjaan terbaru di Indonesia, peran seperti Threat-Hunting Consultant dan Cyber Threat Investigator kini mensyaratkan penguasaan SIEM, telemetry endpoint, threat modeling, Threat Intelligence Platform (TIP), serta framework MITRE ATT&CK. Ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja Indonesia sudah mulai serius mengadopsi pendekatan threat hunting sebagai bagian dari strategi keamanan siber yang lebih matang.

Baca Juga  VA Aplikasi Fintech Berbasis Web dalam Bidang Cybersecurity

AspekDeteksi Tradisional (Reaktif)Threat Hunting (Proaktif)
PemicuMenunggu alert dari sistemBerbasis hipotesis dari threat intelligence
Ruang LingkupAncaman yang sudah dikenal (signature-based)Ancaman tidak dikenal dan yang tersembunyi
Waktu DeteksiBisa berbulan-bulan setelah kompromi awalLebih cepat karena pencarian aktif dan terarah
OutputAlert yang perlu ditindaklanjuti secara manualTemuan IoC dan TTP untuk perbaikan aturan deteksi

Peran Threat Intelligence dalam Proses Threat Hunting

Jika threat hunting adalah aktivitas berburu, maka threat intelligence adalah peta dan kompasnya. Tanpa threat intelligence yang akurat dan kontekstual, seorang threat hunter beroperasi dalam kegelapan, tidak tahu apa yang harus dicari, di mana mencarinya, dan bagaimana mengenali tanda-tanda serangan ketika menemukaya. Threat intelligence menyediakan informasi tentang indikator kompromi (IoC), taktik, teknik, dan prosedur (TTP) yang digunakan oleh kelompok ancaman tertentu, serta konteks tentang motivasi dan target mereka.

Di Indonesia, upaya formal untuk mengintegrasikan threat intelligence ke dalam ekosistem keamanaasional sudah mulai berjalan. BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara) meluncurkan Cyber Threat Intelligence Program (CTIP) yang bekerja sama dengan perusahaan teknologi swasta untuk memperkuat perlindungan infrastruktur nasional dari ancaman siber terbaru. Berdasarkan Perpres No. 28 Tahun 2021, BSSN juga memiliki mandat yang mencakup identifikasi, deteksi, proteksi, respons, pemulihan, dan monitoring, yang semuanya merupakan fungsi yang sangat relevan dengan praktik threat hunting dan threat intelligence.

Selain itu, latihan bersama antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam Information System Technology Exchange (ISTX) 2019 di Jakarta telah menempatkan threat hunting sebagai tema utama. U.S. Army melaporkan bahwa latihan ini berfokus pada cyber forensics dan threat hunting untuk berbagi praktik terbaik serta meningkatkan kapabilitas pertahanan infrastruktur informasi kritis di kedua negara.

Lanskap Ancaman Siber dan Urgensi Threat Hunting di Indonesia

Untuk memahami urgensi threat hunting, penting untuk melihat lanskap ancaman siber di Indonesia secara lebih dekat. Pasar cybersecurity Indonesia sendiri diproyeksikan tumbuh dari US$2,05 miliar pada 2023 menjadi US$3,39 miliar pada 2028, menurut data U.S. Trade.gov. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya kesadaran akan pentingnya keamanan siber sekaligus oleh meningkatnya volume dan kompleksitas serangan.

Baca Juga  VAPT Aplikasi Keuangan dalam Cybersecurity: Panduan Essential

Ensign Infosecurity dalam laporan terbarunya tentang lanskap ancaman siber Indonesia 2024 mengidentifikasi bahwa sektor TMT (Technology, Media, Telecom), BFSI (Banking, Financial Services, Insurance), dan sektor publik tetap menjadi target paling sering. Namun, yang menarik adalah kemunculan sektor hospitality sebagai target baru. Tren hacktivism juga meningkat, sementara kelompok organized crime tetap menjadi aktor ancaman utama. Perubahan target dan taktik ini menegaskan bahwa organisasi tidak bisa hanya mengandalkan pertahanan statis, mereka perlu beradaptasi dan secara aktif memburu ancaman.

Sementara itu, ITSEC Asia memposisikan layanan threat hunting mereka sebagai solusi proaktif yang mencakup identifikasi kompromi masa lalu maupun yang sedang berlangsung, termasuk akun yang telah diakses penyerang dan data yang mungkin telah dieksfiltrasi. Hasil dari proses hunting ini kemudian digunakan untuk memperbaiki strategi keamanan organisasi secara keseluruhan.

Mengintegrasikan Threat Hunting dengan Penetration Testing

Banyak yang bertanya: jika sudah melakukan penetration testing, apakah threat hunting masih diperlukan? Jawabaya adalah ya, keduanya saling melengkapi. Penetration Testing bersifat point-in-time, menguji kerentanan pada satu momen tertentu. Threat hunting, sebaliknya, adalah proses berkelanjutan yang mencari ancaman yang mungkin sudah melewati pertahanan. Kolaborasi keduanya menciptakan postur keamanan yang jauh lebih kokoh.

Organisasi di Indonesia yang ingin membangun kapabilitas threat hunting dapat memulai dengan beberapa langkah praktis. Pertama, pastikan infrastruktur logging sudah memadai karena threat hunting sangat bergantung pada ketersediaan data. Kedua, bangun tim dengan kompetensi di bidang threat intelligence, analisis forensik, dan pemahaman tentang MITRE ATT&CK framework. Ketiga, pertimbangkan untuk menggunakan jasa konsultan keamanan siber yang sudah berpengalaman untuk membantu membangun program threat hunting yang efektif.

Proses Threat Hunting Berbasis Hipotesis

Secara praktik, threat hunting di Indonesia sering dijelaskan sebagai proses berbasis intelijen dan hipotesis. Berikut adalah tahapan umum yang digunakan:

Baca Juga  Pentest Sistem Manajemen Data dalam Cybersecurity

  • Perumusan Hipotesis: Berdasarkan threat intelligence, tentukan skenario serangan yang mungkin terjadi di lingkungan Anda.
  • Pengumpulan Data: Kumpulkan log dari endpoint, jaringan, autentikasi, dan cloud telemetry yang relevan dengan hipotesis.
  • Analisis dan Investigasi: Uji hipotesis dengan menganalisis data menggunakan tools seperti SIEM dan platform threat intelligence.
  • Dokumentasi Temuan: Catat semua indikasi kompromi yang ditemukan, termasuk TTP dan IoC.
  • Umpan Balik ke Deteksi: Ubah temuan hunting menjadi aturan deteksi otomatis untuk mencegah serangan serupa di masa depan.

Kesimpulan

Threat hunting bukan lagi sekadar istilah keren di dunia cybersecurity, melainkan sebuah kebutuhan mendesak, terutama di tengah lanskap ancaman siber Indonesia yang terus berkembang. Dengan lebih dari 11 juta serangan per kuartal, perubahan taktik aktor ancaman, dan regulasi yang semakin ketat, organisasi Indonesia harus bergerak dari pendekatan reaktif menuju pendekatan proaktif. Threat intelligence menjadi fondasi yang memungkinkan threat hunting berjalan efektif, memberikan konteks dan arah yang jelas dalam proses berburu ancaman. Bagi organisasi yang serius ingin memperkuat postur keamanaya, mengintegrasikan threat hunting dengan penetration testing dan layanan keamanan siber laiya adalah langkah strategis yang tidak bisa ditunda lagi.

Takeaways

  • Threat hunting adalah pendekatan proaktif yang mencari ancaman tersembunyi yang lolos dari deteksi otomatis, bukan sekadar menunggu alert.
  • Threat intelligence berperan sebagai fondasi yang memberikan arah dan konteks dalam proses hunting, menghubungkan data mentah dengan profil aktor ancaman.
  • Indonesia mengalami lebih dari 11 juta serangan siber per kuartal, dengan sektor TMT, BFSI, publik, dan hospitality sebagai target utama.
  • BSSN telah meluncurkan Cyber Threat Intelligence Program (CTIP) untuk memperkuat pertahanan siber nasional secara terstruktur.
  • Integrasi threat hunting dengan Penetration Testing menciptakan postur keamanan yang menyeluruh, menggabungkan evaluasi kerentanan dengan deteksi ancaman berkelanjutan.
Bagikan konten ini